Bebas Tapi Tidak Nyaman

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Setengah tahun sudah saya memasuki masa purna bhakti, setelah 40 tahun mengabdi kepada negri ini melalui satu profesi yang tidak asing yaitu PNS alias Pegawai Negeri Sipil.

Bulan pertama yang saya rasakan adalah "bebas".
1. Bebas dari rutinitas kerja (mulai dari apel pagi, mengerjakan tugas dan fungsi sehari-hari, dan tugas-tugas lain dari boss kecil dan boss besar), sehingga bisa malas-malasan tiduran seharian.
 2. Bebas dari aturan pakaian (senin selasa pakai seragam kementrian, rabu kamis pakai putih hitam, jum'at pakai batik atau pakaian olahraga), seminggu pakai sarung dan kampret uga gak ada yang negor!
3. Bebas rambut (mau gundul keq, mau gondrong keq), gak akan ada yang ngomel.
4. Bebas dimarahi atasan (wong bukan bawahannya lagi).
5. Bebas dari dosa kecil (tidak lagi ngomongin/ngumpat/ngegosip teman dan boss).
6. Bebas dari penghasilan diluar gaji!
Nah, dari 6 ke"bebas"an yang dirasakan, pada bulan kedua sampai sekarang, bebas nomor 6 yang membuat "tidak nyaman".
Bagaimana tidak nyaman, gaji pensiunan kan cuma 75%. Dan hanya itu! Sehingga dampaknya "serba 75%".
1. Nasi biasanya minimal 1 piring, jadi 3/4 piring
2. Tempe yang biasanya 3 potong, jadi 2 potong (maksimal)
3. Biasanya dengan ayam kampung, jadi ayam kota alias ayam sayur
4. Rokok biasanya sehari 1 bungkus, jadi 3/4 bungkus (maksimal). Harganyapun menyesuaikan, biasanya yang Rp. 20 ribuan jadi yang Rp. 15 ribuan (maksimal juga)
5. Lampu yang biasanya 15 watt, anjlok jadi yang 3 watt. Hal ini terdorong kenaikan TDL yang 4 kali naik. Jadinya remang-remang deh.
6. Dan banyak lagi yang lainnya, yang harus membuat hidup prihatin, ngukur diri, tahu diri, introspeksi, tawadhu, yang muaranya ketidak nyamanan dalam menjalani kehidupan di masa pensiun.
Biarlah BEBAS tapi TIDAK NYAMAN ini hanya saya yang merasakan. Semoga teman/sahabat lain tidak demikian. Semoga tahun mendatang, pensiunan semuanya lebih sejahtera. Amin.
Wass.wr.wb.
Hindarto Thea

Komentar